Belajar Otodidak Jadi Produser Musik: Pelajaran dari Dwi Sumantri

Potret Dwi Sumantri mengenakan topi merah di sebuah acara musik
Dwi Sumantri di sebuah acara musik. Jalur belajarnya tidak lewat bangku kuliah musik, melainkan lewat panggung dan ruang studio.

Kalau ada bukti bahwa belajar tidak selalu harus lewat ruang kelas, kisah Dwi Sumantri termasuk salah satu yang paling gamblang. Produser musik kelahiran Bekasi, 23 November 1995, ini tidak menempuh sekolah produksi musik formal. Ia belajar dengan cara yang justru sering diremehkan: mencoba, gagal, memperhatikan orang yang lebih ahli, lalu mengulang sampai bisa. Bagi kita yang sedang belajar keterampilan apa pun secara mandiri, perjalanannya menyimpan beberapa pelajaran yang layak ditiru.

Berawal dari stik drum, bukan buku teori

Perkenalan Dwi dengan musik dimulai sejak sekitar usia sepuluh tahun, saat ia memegang stik drum. Ia tidak memulai dari membaca teori musik yang tebal, melainkan dari menabuh, mendengarkan, dan meniru. Pola belajar seperti ini punya nama dalam dunia pendidikan: belajar melalui pengalaman langsung. Otak menyerap keterampilan motorik dan pendengaran jauh lebih cepat lewat praktik berulang daripada sekadar menghafal istilah. Fondasi inilah yang kelak menopang telinganya sebagai produser.

Band sekolah sebagai kelas pertama

Sepanjang masa sekolah, Dwi berpindah dari satu band ke band lain. Di bangku SMP ia bermain di Ask The Fate yang beraliran metal, lalu di SMA bersama Sama Sisi yang lebih rock. Ia akrab dengan emo, metalcore, hingga deathcore. Yang menarik bagi kita adalah: setiap band adalah "kelas" tersendiri. Ia belajar disiplin latihan, kerja sama, membaca dinamika lagu, dan menerima kritik dari teman satu panggung. Ini bentuk belajar sosial yang tidak bisa digantikan tutorial mana pun.

Belajar dari dalam studio sungguhan

Titik balik terbesar terjadi ketika Dwi bekerja sebagai sound engineer di BeatSpace Studio, ruang yang lekat dengan nama Aldy "Kumis" dari Pee Wee Gaskins. Di sinilah ia belajar hal yang tidak diajarkan di kelas mana pun: bagaimana rasanya mengerjakan proyek nyata dengan tenggat, klien, dan standar mutu. Belajar di lingkungan orang yang lebih ahli mempercepat kemajuan karena kita bisa menyontoh cara mereka mengambil keputusan, bukan sekadar hasil akhirnya.

Suasana studio DWS dengan papan neon bertuliskan DWS MANAGEMENT, panel akustik, dan mikrofon
Ruang studio DWS. Bagi seorang otodidak, studio adalah ruang kelas sekaligus lapangan latihan.

Belajar dengan menyelesaikan karya

Pada 2018, Dwi mendirikan DWS Management yang kemudian berkembang menjadi DWS Record. Lewat label inilah proses belajarnya berubah menjadi hasil nyata. Ia menggarap band rock asal Bekasi, Bingar., yang single-nya "Belum Tentu Sampai" (rilis 24 Januari 2025) meraih puluhan ribu putaran, disusul "Sarjana Lalu Lintas", "Ayal", hingga EP "Kini 30". Media musik Pophariini bahkan memuat kemunculan Bingar. pada Februari 2025. Menyelesaikan karya sampai benar-benar rilis adalah bentuk belajar paling jujur: umpan baliknya datang langsung dari pendengar.

Jejak rilis Bingar. bersama DWS Record
KaryaTanggal RilisBentuk
Belum Tentu Sampai24 Januari 2025Single
Sarjana Lalu Lintas6 Maret 2025Single
Ayal13 Juni 2025Single
Kini 3030 Oktober 2025EP

Empat pelajaran belajar mandiri

Dari perjalanan Dwi, ada empat prinsip yang bisa langsung kita pakai. Pertama, mulai dari praktik, bukan dari teori sempurna. Kedua, cari lingkungan berisi orang yang lebih ahli agar kita menyerap cara berpikir mereka. Ketiga, kerjakan proyek nyata sampai tuntas, karena karya yang selesai mengajari lebih banyak daripada seratus latihan setengah jadi. Keempat, konsisten dalam jangka panjang; keahlian tumbuh dari jam terbang, bukan dari satu malam belajar.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah bisa jadi produser musik tanpa sekolah musik formal?

Bisa. Dwi Sumantri belajar dari pengalaman bermain band dan bekerja langsung di studio. Kuncinya adalah jam terbang dan berani mengerjakan proyek nyata sampai selesai.

Apa yang bisa dipelajari dari cara belajar Dwi Sumantri?

Bahwa belajar paling cepat terjadi saat kita mengerjakan hal nyata, dikelilingi orang yang lebih ahli, dan mau menyelesaikan karya sampai tuntas.

Poin-poin penting